Waled NU: Begini Abon Samalanga Membendung Faham Wahabi

0
12

PIDIE JAYA I NUA-Rais Syuriah PW NU Aceh Tgk. H. Nuruzzahri atau akrab dipanggil Waled NU memberikan materi berkaitan dengan Aswaja kepada peserta DTD Ke-1 GP Ansor Pidie Jaya bertempat di Aula STIS Ummul Ayman Meureudu, Minggu, (16/2/2020).

Sosok ulama kharismatik Aceh itu menjelaskan perjalanan lahirnya NU di tanah air, kala itu KH.Hasyim Asyari menyarankan agar Komite Hijaz ini tidak hanya untuk sekedar urusan Muktamar saja, tetapi dikembangkan menjadi organisasi permanen untuk memperjuangkan dan melestarikan ajaran Islam Ahlus-sunnah wal-jama’ah.

” Akhirnya usulan tersebut dispakati oleh para ulama yang hadir dalam pertemuan tersebut dengan suara bulat, dan dibentuklah Jam’iyah Nahdlatul Ulama, pada tanggal 16 Rajab 1344 H. atau 31 Januari 1926,” ulasnya dihadapan peserta DTD GP Ansor Pijay.

Selanjutnya, Waled juga mengisahkan perjalanannya di bidang organisasi ditekuninya sejak belajar di dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga menjadi Ketua Pemuda Perti, hingga menjadi Rais Syuriah PW NU Aceh.

“Dulunya Almukarram Abon Aziz Samalanga membagi tugas masing-masing kepada muridnya dan ulama seputaran Samalanga dan sekitarnya untuk membendung faham Wahabi dengan masuk di Perti dan NU, sehingga kami diberikan tugas dan misi yang sama walaupun beda bendera baik Perti dan NU,” papar pimpinan Dayah Ummul Ayman Samalanga.

Waled menjelaskan kita tidak boleh dengan cepat Menuduh Sesema Islam dengan tuduhan Kafir, munafik, bid’ah dan sejenisnya sebelum bertabyyun.

Waled berharap hendaknya setiap ada informasi pentingnya kita bertabayyun. selama kita Masih boleh mentakwilkan walau dengan 99 kali takwil maka kita tak berhak menuduh Kafir, munafik dan lainnya yang dapat menghancurkan persatuan kita umat Islam sendiri.

Selain itu, Waled juga menjelaskan esensi Islam Nusantara yang selama ini sering diplentirkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga ada sebagian orang membenci NU dengan konsep Islam Nusantara yang diusung Nahdlatul Ulama.

” Islam Nusantara Adalah Islam Indatu yang menghargai budaya dan kearifan lokal serta tidak bertentanngan dengan Islam Itu sendiri, Islam Nusantara bukanlah Islam yang diplintir di Medsos untuk menjatuhkan NU dan pemahaman Aswaja dan mereka (yang memplintir) pada umumnya berfaham W-H-B,”papar pimpinan Dayah Ummul Ayman Samalanga.

Pantuan media ini, hampir dua jam lebih Waled memberikan materi namun peserta DTD terasa masih sangat singkat dirasakan peserta, terlebih semangat dan antusiaanya Waled dalam memberikan materi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here